Judul Artikel

Perencanaan Pembelajaran Model Discovery Learning

     Perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien (Sanjaya, 2009:24). Perencanaan pembelajaran juga bisa dikatakan suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Sebuah rencana adalah sebuah dokumen dari hasil kegiatan. Sebagaimana Terry (dalam Sanjaya, 2009:24) mengungkapkan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dari pendapat tersebut, maka setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur yakni ; tujuan yang harus dicapai, strategi untuk mencapai tujuan, sumber daya yang dapat mendukung, dan implementasi setiap keputusan.

     Tujuan merupakan arah yang harus dicapai. Agar perencanaan dapat disusun dan ditentukan dengan baik, maka tujuan itu perlu dirumuskan dalam bentuk sasaran yang jelas dan terukut. Dengan adanya sasaran yang jelas maka ada target yang harus dicapai. Target itulah yang selanjunya menjadi fokus dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Strategi berkaitan penetapan keputusan yang harus dilakukan seseorang perencana. Misalnya keputusan tentang waktu pelaksanaan dan jumlah wakt yang diperlukan untuk mencapai tujuan, pembagian tugas dan wewenang setiap orang terlibat, langkah-langkah yang harus dikerjakan oleh setiap orang yang terlibat, penetapan kriteria keberhasilan dan lain sebagainya. Penetapan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan, di dalamya meliputi penetapan sarana dan prasarana yang diperlukan, anggaran biaya dan sumber daya lainnya, misalnya pemamfaatan waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Implementasi adalah pelaksanaan dari strategi dan penetapan sumber daya. implementasi merupakan unsur penting dalam proses perencanaan. Untuk menilai efektivitas suatu perencanaan dapat dilihat dari implementasinya. Artinya sebuah keputusan akan berarti apabila diterapkan atau dilakukan dalam kegiatan nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Dalam mengaplikasikan model discovery learning, berikut ini tahap perencanaan yang hendaknya dilakukan menurut Bruner (Suciati & Prasetya Irawan dalam Budiningsih, 2012:50), yaitu:

  1. Menentukan tujuan pembelajaran;
  2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya);

  3. Memilih materi pelajaran;

  4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi);

  5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa;

  6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik;

  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

 

     Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah, dijelaskan bahwa tahap pertama dalam pembelajaran yaitu perencanaan yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. RPP mencakup: (1) identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester; (2) alokasi waktu; (3) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi; (4) materi pembelajaran; (5) kegiatan pembelajaran; (6) penilaian; dan (7) media/alat, bahan, dan sumber belajar. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau berkelompok (di KKG) di sekolah/madrasah dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah/madrasah. Prinsip penyusunan RPP dapat dijabarkan sebagai berikut (Kemdikbud, 2016:232-233):

  1. Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi dasar sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4);
  2. Satu RPP dilakukan dalam satu kali pertemuan (satu hari);

  3. Memperhatikan kebutuhan individu siswa. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan.atau lingkungan siswa;

  4. Berpusat pada siswa. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada siswa untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pengembangan model-model pembelajaran;

  5. Berbasis konteks. Proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan di sekitarnya sebagai sumber belajar;

  6. Berorientasi kekinian. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini;

  7. Mengembangkan kemandirian belajar. Pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk belajar secara mandiri;

  8. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedial;

  9. Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya;

  10. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

Langkah penyusunan RPP dijabarkan sebagai berikut (Kemdikbud, 2016:233):

  1. Mengkaji silabus tematik meliputi: (1) KI dan KD; (2) materi pembelajaran; (3) proses pembelajaran; (4) penilaian pembelajaran; (5) alokasi waktu; dan (6) sumber belajar;
  2. Merumuskan indikator pencapaian KD pada KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4;

  3. Mengembangkan materi pembelajaran. Materi pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran (buku siswa) dan buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial;

  4. Menjabarkan kegiatan pembelajran yang ada pada silabus dalam bentuk yang lebih operasional berupa pendekatan saintifik disesuaikan dengan kondisi siswa dan satuan pendidikan termasuk penggunaan media, alat, bahan, dan sumber belajar;

  5. Menentukan alokasi waktu untuk setiap pertemuan berdasarkan alokasi waktu pada silabus. Selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup;

  6. Mengembangkan penilaian pembelajaran dengan cara menentukan lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta membuat pedoman penskoran;

  7. Menentukan strategi pembelajaran remedial segera setelah dilakukan penilaian;

  8. Menentukan media, alat, bahan, dan sumber belajar disesuaikan dengan yang telah ditetapkan dalam langkah proses pembelajaran.

 

     Komponen minimal RPP ditetapkan tidak secara tertutup. Artinya setiap satuan pendidikan diberikan peluang untuk menambah komponen lain, selama komponen tersebut memberikan kemudahan dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun komponen minimal RPP dijabarkan sebagai berikut (Kemdikbud, 2016:234) :

  1. Identitas sekolah/madrasah (nama sekolah), mata pelajaran atau tema (nama mata pelajaran atau judul tema), kelas/semester (kelas dan semester yang akan dibelajarkan), dan alokasi waktu (prakiraan durasi waktu untuk menyelesaikan kompetensi dan materi yang akan dibelajarkan);
  2. Kompetensi Inti I dan II, khusus untuk mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti, dan PPKn dicantumkan sebagaimana yang ada dalam dokumen KI-KD. Untuk mata pelajaran lain, dicantumkan dengan deskripsi yang menjelaskan bahwa kompetensi spiritual dan kompetensi sosial merupakan pembelajaran tidak langsung sebagai nurturant effect dari pengembangan kompetensi pengetahuan dan keterampilan sebagai dasar penumbuhan dan pengembangan karakter peserta didik lebih lanjut;

  3. Kompetensi Dasar dan indikator pencapaian kompetensi (mengacu pada KD di silabus);

  4. Materi pembelajaran (mengacu pada silabus);

  5. Kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup (skenario kegiatan menggunakan pendekatan keilmuan dengan model-model dan metode sesuai dengan kebutuhan pencapaian KD;

  6. Penilaian, mencakup kompetensi yang akan dinilai, instrumen penilaian, cara melaksanakan penilaian, pengeolahan data, serta pelaporannya;

  7. Pendukung pembelajaran, meliputi; media, alat, bahan, dan sumber belajar.

posted by sokolite.com

13 Januari 2020