Judul Artikel

Model Discovery Learning
dalam K-13

     Proses pembelajaran dalam kurikulum yang diterapkan di Indonesia sejak KTSP telah menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Namun semula hanya menekankan pada aspek pengetahuan saja, sedangkan aspek lainnya hanya secara samar dan bahkan tak pernah disentuh oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Padahal untuk menjadi seorang manusia yang sukses, tidak cukup hanya berbekal kemampuan pengetahuan saja, melainkan harus mempunyai prinsip-prinsip dan keyakinan yang unggul dalam menghadapi permasalahan nyata di kehidupan.

     Perubahan kurikulum KTSP ke Kurikulum 2013 menghendaki hasil belajar yang melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”. Sehingga diharapkan siswa benar-benar mengetahui di tahunya. Ranah sikap menjadi penekanan awal, di mana ranah sikap ini akan membimbing siswa dalam mengambil suatu keputusan. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa”. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Dalam mengolah pembelajaran agar runtut tidak meloncat-loncat, maka diperlukan model pembelajaran yang perlu diterapkan di kegiatan inti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Model pembelajaran merupakan acuan sistematis yang digunakan dalam proses pembelajaran. Ciri-ciri model pembelajaran yaitu; fokus, memiliki sintak, sistem sosial, dan sistem pendukung. Model pembelajaran digunakan oleh guru agar pembelajaran lebih efisien dan efektif. Model pembelajaran yang dipilih hendaknya membuat siswa aktif dan berpikir kritis (Kemdikbud, 2016:156). Model pembelajaran Discovery Learning sangat disarankan untuk digunakan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014, bahwa pada implementasi Kurikulum 2013 sangat disarankan menggunakan discovery based learning dan problem based learning. Pada setiap model tersebut dapat dikembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

     Model discovery learning mengacu kepada teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang diharapkan siswa mengorganisasi dan membangun konsep berdasar penemuannya sendiri. Dalam menerapkan model pembelajaran discovery learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented (berpusat pada guru) menjadi student oriented (berpusat pada siswa) (Kemdikbud, 2016:159).

Tujuan pembelajaran berbasis penemuan (Kemdikbud, 2016:159):

  1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya;
  2. Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer;
  3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil;
  4. Model pembelajaran ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat sesuai dengan kecepatannya sendiri;
  5. Menyebabkan  siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri;
  6. Model pembelajaran discovery learning ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya;
  7. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi;
  8. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang original dan tertentu atau pasti;
  9. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
  10. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru;
  11. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
  12. Mendorong siswa berintuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
  13. Memberikan keputusan yang bersifat instrinsik;

  14. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang;

  15. Proses belajar meliputi sesama aspeknya, siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya;

  16. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa;

  17. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;

  18. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu

posted by sokolite.com

13 Januari 2020