Judul Artikel

Etika Penelitian

     Pernahkah Anda terlibat dalam suatu penelitian? Sebagian orang mungkin tidak menyadari pernah melakukan sebuah penelitian. Jangan membayangkan penelitian hanya berhubungan dengan kegiatan akademik di sebuah sekolah, kampus atau lembaga saja, namun dapat berwujud lebih luas. Contohnya, seorang ibu mengetahui cara menyemangati anaknya yang sedang gundah. Atau seorang petani di suatu dusun yang menemukan cara menangkal hama busuk batang pada tanaman kacang panjang di sawahnya. Bahkan seorang pemuda yang tahu persis cara membuat kekasihnya tersenyum jika sedang ngambek. Kesemuanya membutuhkan penyelidikan yang tersistem, terkontrol, teramati, dan kritis berkenaan dengan adanya suatu masalah yang sedang dihadapi. Sebagaimana Kerlinger (1986:17-18) mendefinisikan, penelitian sebagai suatu investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis dari suatu proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena.

     Orang-orang dalam contoh tersebut tanpa sadar telah melakukan prosedur penelitian dalam menemukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada orang yang terlibat di dalamnya, baik disengaja maupun tidak. Sebut saja contoh kedua, seorang petani yang menemukan cara menangkal hama busuk batang pada tanaman kacang panjang di sawahnya. Dia telah melakukan beberapa percobaan, dan akhirnya menyimpulkan bahwa pengasapan yang rutin dapat menangkal hama busuk batang pada tanaman kacang panjang di sawahnya. Namun keberhasilan petani tersebut ternyata tidak disukai oleh tetangganya yang kebetulan mempunyai sawah yang bersebelahan dengannya. Usut punya usut si Tetangga mempunyai riwayat penyakit asma yang dapat kambuh jika menghirup asap yang berlebihan, yang sebelumnya telah diketahui oleh si Petani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Kerlinger (1986:437) menyebutkan contoh menarik bagaimana sebuah penelitian sangat berdampak pada orang yang terlibat di dalamnya. Pada 1950an militer Amerika pernah melakukan penelitian tentang pemanfaatan nuklir dalam perang dengan melibatkan banyak prajurit yang dalam pelaksanaannya langsung terpapar radiasi nuklir. Beberapa tahun kemudian seorang prajurit melaporkan bahwa beberapa prajurit yang terlibat dalam penelitian tersebut mengidap kanker karena terpapar radiasi nuklir.

     Contoh lain dalam Kerlinger (1986:438), penelitian yang dilakukan Edward Jenner, seorang dokter, pada 1796 dalam usahanya menemukan vaksin untuk smallpox atau cacar, ia menyuntik seorang bocah dengan bentuk lemah dari virus smallpox dan berhasil mengembangkan vaksin untuk menyembuhkannya. Meskipun apa yang telah dilakukannya menjadi awal mula diterimanya vaksinasi secara umum dan berkembang luas di dunia, namun sejarah mencatat Edward Jenner tak pernah meminta ijin pada siapapun sebelum melakukan penelitiannya, termasuk kepada orang tua bocah yang menjadi respondennya. Berdasarkan contoh yang telah dikemukakan, penelitian yang tidak dirancang sedemikian rupa mengikuti kaidah etika suatu penelitian, maka akan berdampak buruk bagi peneliti, responden yang terlibat, bahkan masyarakat secara luas.

     Terbayang seandainya seorang Edward Jenner tidak berhasil menemukan vaksin cacar dan Si Bocah meninggal dunia karena virus tersebut. Maka penelitian itu meskipun pada awalnya memiliki niat yang baik, pada akhirnya hanya akan menjadi sumber kesengsaraan bagi orang lain. Oleh karenanya dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, berkembang pula etika penelitian yang muncul sehingga penelitian yang dilakukan benar-benar bermanfaat dan bernilai guna, dan tidak menimbulkan kerugian pada pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian.

 

DEFINISI ETIKA PENELITIAN

     Secara bahasa, etika penelitian terdiri dari dua kata, yakni; etika dan penelitian. Etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat, kebiasaan. Dari kata ini terbentuklah istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Kata “moral” berasal dari bahasa latin : mos (jamak:mores, yang berarti kebiasaan, adat. Keduanya berarti adat kebiasaan (Vardiansyah dalam Muslim, 2007:83). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban. Menurut Sastrapratedja (dalam muslim, 2007:83), etika dalam konteks filsafat merupakan refleksi filsafati atas moralitas masyarakat sehingga etika disebut pula sebagai filsafat moral. Etika membantu manusia untuk melihat secara kritis moralitas yang dihayati masyarakat. Sedangkan etika dalam ranah penelitian lebih menunjuk pada prinsip-prinsip etis yang diterapkan dalam kegiatan penelitian. Johanesen (dalam Muslim, 2007:83) menjelaskan etika merupakan kajian umum dan sistematik tentang apa yang seharusnya menjadi prinsip benar dan salah yang praktis, spesifik, disepakati bersama, dan dialihkan secara kultural. Sedangkan penelitian menurut Shrader-Frechette (dalam Kerlinger, 1986:438) “research is an activity done to test theories, make inferences, and add or update information on a base of knowledge.” Tuckman dan Harper (2012-3) mendefinisikan penelitian sebagai :

“Research is a systematic attempt to provide answers to questions. It may yield abstract and general answers, as basic research often does, or it may give extremely concrete and spesific answers, as demonstration or applied research often does. In both kinds of research, the investigator uncover facts and then formulates a generalization based on an interpretation of those facts.”

     Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa etika penelitian merupakan prinsip etis yang diterapkan dalam kegiatan penelitian, yang di dalamnya mengandung tanggungjawab dan moralitas peneliti terhadap masyarakat luas dalam menyusun desain, melaksanakan, dan mempublikasikan penelitian.

 

 

 

 

 

 

 

 

CAKUPAN ETIKA PENELITIAN

     Sebuah penelitian yang beretika, artinya memenuhi etika penelitian, tidak saja memperhatikan keadaan dan kepentingan responden yang terlibat di dalamnya, namun sampai pada penulisan laporan penelitian yang objektif sesuai kaidah-kaidah penelitian yang berlaku. Penelitian pendidikan pada khususnya, selalu melibatkan manusia (siswa, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) sebagai subjek penelitiannya. Tuckman dan Harper (2012-3) menyampaikan pentingnya etika dalam penelitian, yakni: “The matter of ethics is important for educational researches. Because the subjects of their studies are the learning and behavior of human beings, often children, research may embrass, hurt, frighten, impose on, or otherwise negatively affect the lives of the participants.”

     Shrader-Frechette (dalam Kerlinger, 1986:443) menyatakan bahwa, “Just as scientists have a duty to do research but to avoid athically questionable research, so also they have a responsibility not to become so ethically scrupulous about their work that they threaten the societal ends research should serve.”

   Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa etika penelitian tidak saja mencakup tanggungjawab keilmuan peneliti saja, melainkan juga tanggungjawab kemanusiaan atas hasil penelitian yang dilakukannya. Untuk itu sedapat mungkin dari mulai perencanaan, pelaksanaan, sampai pada penulisan laporan yang dipublikasi memperhatikan sisi kemanusiaan subjek penelitian. Adapun secara rinci cakupan etika penelitian dapat disajikan berikut ini (Kerlinger, 1986:443-446):

 

a. General Considerations/Pertimbangan Umum

Keputusan seorang peneliti untuk mengambil/terlibat dalam proyek penelitian yang akan dilakukan. Harus benar-benar mempunyai keyakinan apakah penelitian yang dilakukannya bernilai/berguna bagi ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia. Jika peneliti merasa penelitian yang akan dilakukannya tidak berguna bagi kemaslahatan umat manusia, sebaiknya tidak dilakukan.

 

b. The Participant at Minimal Risk/Meminimalisir Resiko bagi Responden/Peserta

Pertimbangan utama mengenai dilakukan atau tidaknya suatu penelitian hendaknya juga memperhatikan keselamatan responden. Sebelum melakukan tindakan-tindakan, peneliti wajib sudah mempertimbangkan sisi keselamatan responden. Pertimbangan itu dapat diperoleh dengan berkonsultasi dengan pakar atau rekan sesama peneliti sebelum melanjutkan penelitian. Sebagian besar universitas telah mempunyai komite khusus untuk mengkaji semua proposal penelitian yang masuk dan menentukan sebuah penelitian layak dilakukan atau tidak dengan menempatkan resiko responden sebagai pertimbangan utama.

 

c. Fairness, Responsibility, and Informed Consent/Memenuhi Rasa Keadilan, Tanggungjawab, dan Persetujuan Tindakan

Sebelum pengikutsertaan dalam penelitian, baik peneliti maupun responden harus sudah mempunyai kesepakatan yang menjelaskan kewajiban dan tanggungjawab masing-masing. Responden harus sudah menyetujui untuk menoleransi hal-hal seperti ketidaknyamanan, rasa jemu/bosan, demi kebermanfaatan ilmu pengetahuan. Secara khusus jika dalam suatu penelitian memerlukan tindakan khusus yang menyangkut fisik maupun mental responden, maka peneliti harus sudah mendapatkan persetujuan dari orang yang bertanggungjawab terhadap reseponden.

 

d. Deception/Menjauhi Tindakan Penipuan

Penipuan dalam penelitian agaknya telah hidup dan bertahan dalam dunia penelitian meskipun seringkali secara samar ditekan untuk tidak muncul di permukaan. Penipuan dapat dilakukan oleh peneliti maupun responden. Sehingga dapat menyebabkan hasil penelitian menjadi bias dan tidak akurat. Sebagai contoh suatu ketika para pekerja pabrik diberitahu akan dilakukan penelitian terhadap produktivitas pekerja. Para pekerja mengetahui bahwa mereka akan diteliti atas produktivitas kerjanya, sehingga dalam pelaksanaan penelitian para pekerja bekerja tidak sesuai kondisi normal seperti biasanya, namun bekerja lebih keras dengan waktu istirahat yang lebih singkat dari biasanya. Sehingga peneliti yang semula hendak mengukur secara akurat produktivitas pekerja tidak mendapatkan data yang benar. Akhirnya berpengaruh pada hasil penelitian yang tidak mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah produktivitas pekerja. Contoh lain, seorang mahasiswa yang terdesak waktu untuk segera menyelesaikan pendidikannya menyusun skripsi dengan memanipulasi data penelitiannya, sehingga nampak data tersebut seolah-olah diambil dari sample nyata, padahal sebenarnya hanya karangannya saja.

 

e. Debriefing/Menjelaskan Data yang Terkumpul kepada Responden

Segera setelah mendapatkan data dari responden, dalam penelitian yang natural sangat berhati-hati dalam menjelaskan data tersebut kepada responden, yang disebut dengan istilah debriefing. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan dan menghindari segala kesalahpahaman yang dapat timbul dari hasil penelitian. Secara tegas Kerlinger (1986:445) menyebut pentingnya debriefing sebagai, “This is an extremely important element in conducting a research study. Even the explanation of the study should not be aversive. It needs to be worded in a way such that those who just been deceived will not feel foolish or stupid or embrassed.” Jadi jelas sekali bahwa debriefing sangat berguna untuk menghindari timbulnya konflik/permusuhan ataupun responden merasa terperdaya oleh peneliti.

 

f. Freedom from Coercion/Bebas dari Pemaksaan

Responden harus selalu mempunyai perasaan bahwa mereka dapat menarik diri dari keterlibatannya dalam sebuah penelitian tanpa dikenai sanksi/hukuman apapun. Bahkan yang diwujudkan dalam kalimat-kalimat negatif yang mengacu pada kesediaan awal responden untuk bergabung, yang oleh Kerlinger disebut dengan repercussions. Responden harus sudah diberitahu sebelumnya pada sesi terawal suatu percobaan, bahwa sebagai responden sifatnya sukarela, artinya tak ada paksaan sama sekali atas keterlibatannya dalam kegiatan penelitian. Bahkan memberikan iming-iming nilai bagi responden yang kebetulan adalah siswanya dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk paksaan. Secara jelas Kerlinger (1986:445) mengungkapkannya, “Giving extra credit points for participation can be perceived as coercion.”

 

g. Protection of Participants/Perlindungan bagi Responden/Peserta

Peneliti harus memberitahu responden semua resiko dan bahaya yang melekat pada pelaksanaan penelitian nantinya. Peneliti harus menyadari bahwa responden telah berbaik hati membantunya untuk terlibat dalam penelitian. Dalam beberapa kasus penelitian, responden dapat mengalami stres akibat perlakuan dalam penelitian. Makanya menjadi tidak etis apabila dalam suatu penelitian menempatkan seorang yang menderita penyakit kronis sebagai grup kontrol di mana mereka tidak mendapatkan perawatan apapun.

 

h. Confidentially/Menjamin Kerahasiaan

Menjamin kerahasiaan responden seringkali secara sekaligus dapat melindungi responden dari adanya ancaman atau hal-hal yang membahayakan yang diakibatkan oleh keikutsertaannya dalam suatu penelitian. Jaminan bahwa data yang telah dikumpulkan akan sangat dijaga kerahasiaannya dan tidak akan dipublikasikan memberi rasa aman bagi responden yang pada gilirannya akan memberikan timbal balik yakni dengan memberikan data-data yang jujur dan akurat. Jaminan kerahasiaan data responden sudah dirancang sedemikian rupa oleh peneliti sejak sebelum penelitian dilakukan untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan identitas responden dapat dilacak oleh masyarakat umum. Kerlinger (1986:445) memberi gambaran yang bagus bagaimana menjamin kerahasiaan data responden, yakni: 

“That is, the information collected from the participant will not be disclosed to the public in a way that could identify the participant. With sensitive data, the researcher must inform the participant how the data will be handled. In one study dealing with sexual behavior an AIDs, participant were asked to fill out a questionnaire, place the questionnaire in an unmarked envelope, and deposit the envelope in a sealed box. The reasercher assured the participants that the questionnaires would only be seen by data-entry people who “won’t know and cannot guess who they are”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Banyak kasus yang mencuat di dunia akademik berkenaan dengan pelanggaran etika penelitian. Sebut saja plagiarism/penjiplakan karya tulis, pemalsuan data, pengambilan sumber yang tidak tepat, penggunaan ide penelitian terdahulu tanpa konfirmasi si Empunya, penghilangan data yang tidak sesuai keinginan, dan sebagainya. Kasus tersebut dapat terjadi karena kesengajaan maupun tidak disengaja. Keduanya dapat merugikan orang lain dan menurunkan nilai kemaslahatan bagi umat manusia. Sebagai insan akademik, kita dituntut untuk selalu mengetahui ilmu yang melandasi apa yang kita kerjakan yang berkenaan dengan disiplin ilmu yang dikuasai.  Etika-etika keilmuan haruslah dipahami dan terlebih lagi diterapkan dalam kehidupan nyata. Kesadaran ini dapat muncul dengan pengetahuan dan bimbingan secara intensif sedini mungkin bagi para siswa dan mahasiswa.

 

DAFTAR PUSTAKA/REFERENSI

Muslim. (2007). Etika dan Pendekatan Penelitian dalam Filsafat Ilmu Komunikasi (Sebuah Tinjauan Konseptual dan Praktikal). Jurnal Komunikologi Vol. 4 No. 2, September  2007.

 

Kerlinger, Fred N. (1986). Foundations of Behavioral Research. New York: Holt, Reinhart and Winston.

 

Tuckman, Bruce W. (2012). Conducting Educational Research - 6th  ed. Maryland: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.

 

http://www.biografiku.com/2009/03/biografi-edward-jenner-1749-1823.html

posted by sokolite.com

12 Januari 2020